Can you even imagine what it is like to remember about everything?

Hari Demo BBM

1 comment

*gambar diambil dari google*

Hari kemarin tidak seperti biasanya..

Gang keluar dari kampus guru macet. Jalan sang pelukis, yang nampaknya orang sulit menyebut namanya, itu macet. Dan yang lebih tidak biasa, jalan tikus alternatif yang biasanya lengang itu pun ikutan macet.
Apakah komo sekarang sudah eksis lagi? Menggantikan Elang dan Rajawali yang beterbangan di layar kaca?

Rupanya tidak..

Setelah menjamah macet lebih dari 2700 detik akhirnya saya temukan biang kerok kemacetan.
Kawan-kawan seprofesi saya. Yang saya pun ragu untuk kepantasan menyebut mereka kawan. Bukan karena saya tak mengenal mereka. Tapi, ah lihatlah kelakuan mereka.

Mereka ini menutup jalan utama di kota nyaman yang mulai ikutan padat ini. Demo bahan bakar yang katanya mau naik. Mau menyuarakan suara rakyat katanya. Tidaklah mereka berpikir berapa ribu rakyat yang mereka sengsarakan karena macet. 

Rakyat yang harus segera pulang kerumah memasak untuk keluarga.
Rakyat yang harus segera mengantar keluarga yang sakit. 
Rakyat yang harus menyampaikan pesanan dari pemesan.
Rakyat yang harus mengejar kereta agar bisa mencari sesuap nasi untuk keluarga
dan rakyat lain yang harus segera pulang menyelesaikan tugas seperti saya...

Dan ah, sebagai kawan seprofesi saya sungguh malu, tadi pagi headline koran memuat mereka. Anarkis katanya. Merusak mobil yang lewat. Di lain daerah malah sampai merusak infrastruktur bangunan.

Saya pikir wajar keinginan demo dan berorasi itu muncul. Wajar ketika mahasiswa mempertanyakan kenaikan BBM sebagai sebuah solusi dari membengkaknya anggaran negara.
Namun menjadi tidak wajar ketika niat mulia itu justru mereka hancurkan sendiri.

Saya memang tidak pernah demo. Buat apa? supaya didengar? Lantas apa yang akan terjadi kalau orasi kita hanya didengar saja? Begitukan biasanya? Masuk kuping kanan keluar kuping kiri.
Tapi saya juga bukannya tidak sepakat dengan demo. Belenggu negara ini terbebas karena demo dari mahasiswa. Ingat kan Mei 1998?

Meski begitu
Saya lebih memilih berdiskusi. Memutar otak menemukan ide bisnis. Merencanakannya. Agar nanti akan ada 3 atau 5 bahkan 10 orang yang nasib makannya tak kan lagi tergantung pada harga BBM. 

Saya memilih berdiskusi dengan teman. Bertukar informasi tentang negeri ini. Terlalu banyak hal yang belum saya pahami. Terlalu sedikit kebaikan yang saya ketahui.

Atau membaca buku. Agar saya bisa menjadi pendidik yang profesional. Yang memiliki pemahaman baik tentang keilmuan dan anak murid saya. Hingga nantinya bisa membantu 10 atau 30 bahkan 100 anak untuk bisa bermimpi, membangun masa depan yang lebih baik untuk mereka.

Tapi saya tetap yakin, setiap orang memiliki cara sendiri untuk mencintai Negeri ini. Dan saya juga yakin, cara apapun itu tentu saja memiliki aturan yang orang pilihan seperti mahasiswa bisa pahami.

Bukankah demikian? Berprofesi sebagai mahasiswa itu sungguh istimewa. Pak Hatta Rajasa bilang hanya 8% rakyat Indonesia usia mahasiswa yang benar-benar menjadi mahasiswa.

Spesial bukan?
Maka saya tidak ingin menodai kespesialan itu.


Hidup mahasiswa Indonesia!!!!


1 comment :

leave me some words :)