Tentang Tiara

Can you even imagine what it is like to remember about everything?

Cinta bukan tentang usia :)

1 comment
Si Mbah saya kecelakaan. Tertabrak motor.

Pagi itu masih pukul 05.00. Pagi buta. Si Mbah mau ke pasar belanja buat jualan di warung rumah.
Iya, Si Mbah saya punya warung kecil dirumah. Pedagang. Entrepreneur.

Nah kan! Saya punya darah entrepreneur. Jadi possibly, maybe, saya punya bakat enterepreneur.

Si Mbah saya itu tadi retak dan patah di tiga tempat di tangan kanannya. Dan juga sobek dalam di paha kanan sehingga dijahit. Bukan pakai mesin jahit tentunya. Ini Si Mbah saya, bukan baju.

Ditambah lagi ada retak dan luka besar di jari-jari tangan kanan yang menjadikan kassa yang membalutnya basah. Darah. Merah.

Sementara Si Mbah putri berbaring sambil sesekali mengeluh kesakitan, Si Mbah kakung berada dirumah. Entah melakukan apa, menunggu rumah. Barangkali ada tamu yang datang. Siapa yang tau kan?

Pulangnya, mampir ke Si Mbah kakung. Memastikan makannya terlaksana, menyampaikan kabar.

Tetiba mata ini memerah. Memperhatikan raut wajah Si Mbah ketika mendengarkan cerita tentang kondisi SI Mbah putri.

Raut nya tetap teduh, meski ada kekhawatiran disana.
Senyumnya tetap menyenangkan, meski ada kesedihan disana.
Suaranya tetap tenang, meski ada getaran sendu disana.

Kalimatnya tetap sederhana, meski ada ronta ingin berjumpa sebenarnya.

Begitulah, ketika belahan jiwa kau yang sudah hidup seatap dengan kau tak kurang dari 60 tahun,
sakit dan harus terpisah dari kau.

Mereka bilang tak apa, sudah tua ini. Ah, siapa yang tahu cintanya Si Mbah. Meski sudah bungkuk, sudah keriput, sudah ompong. Cinta tetap cinta.

Cinta bukan masalah usia, ini masalah menjaga. Menjaga cinta.

Saya iri sekali ketika itu. Ingin sekali punya kasih cinta sayang apalah itu, yang tulus. Yang tak mengenal usia.rupa.pesona.

Begitulah, cinta memang bukan tentang usia :)

1 comment :

Post a Comment

leave me some words :)

Usaha dengan usaha

No comments
Luar biasa sekali seminar kemarin ini..

Sudah gratis, dapat makan minum, sertifikat. Tempatnya pun tak main main.
Grha Sabha apalah itu, milik kampus sebelah. Megah.

Saya datang dengan niat yang tulus. Ingin mendapat pencerahan tentang kewirausahaan.
Dan ini sungguhan. Karena memang begitulah tema seminarnya.

Opening berlangsung wah. Menyanyikan lagu Indonesia Raya yang entah sudah berapa lama tak saya nyanyikan. Merinding hingga ke leher. Menyanyi Satu Nusa Satu Bangsa. Ah, apa pula judul yang benar, liriknya saja sering tertukar. Malu.

Sambutan dari Menteri Koperasi dan UKM pun mewah. Tentu saja bukan Pak Menteri yang datang. Diwakili oleh wakilnya. Siapa entah. Sayang, hanya satu kalimat tanpa makna utuh yang terngiang di kuping saya. Begini >> Kejar dengan gigih, kayak pacar. Apa yang harus dikejar dengan gigih? Apa yang kayak pacar? Pacar siapakah? Entah.

Sayang sekali, sungguh, kewahan itu harus dinodai dengan moderator yang... ah sudahlah. Sungguh moderator yang... ah sudahlah. Ditambah noda dari motivator yang juga... ah sudahlah. Mana ada motivator kok...ah sudahlah. Memang hari itu penuh keanehan yang membuat mulut ini berucap ah sudahlah, gratis ini.

Tapi untungnya ada satu nama yang wah. Profesor Suyanto. Cerdas, sederhana, humoris. Sempurna, dimata saya. Dari Amikom. Akademi Minyak dan Kompor. Begitu beliau memperkenalkannya. Jangan salahkan saya menyebutnya demikian. Punya 10 kampus lebih. Tercatat di Unesco pula. Cerita perjuangan beliau itu, luar biasa. Sayang tak rampung penjelasannya. Dimana saya bisa menemukan beliau lagi. Mari Berburu.

Kami diberikan post test. Pre test juga. Ingat ketika saya hanya menangkap sepenggal kalimat dr sambutan menteri? Ya, karena saya mengisi pre test.

Kenapa ingin menjadi wirausaha? Karena Wirausaha itu hebat. Itu jawaban saya. Benarkan? Wirausaha itu hebat? Tidak hanya mencari uang untuk sendiri, juga membantu yang lain mencari uang. Tidak hanya menggantungkan nasib pada pemerintah, tapi membuat dirinya menjadi gantungan nasib banyak orang.

Tapi tidak, tujuan saya tak semuluk itu. Tujuan saya cuma satu. Saya ingin mengusahakan mimpi saya untuk terwujud. Kalian punya mimpi kan? Saya juga punya. Mimpi itu harus diwujudkan, kan? Dan butuh usaha untuk mewujudkannya, kan? Inilah salah satu usaha saya.

Balekambang, Karimunjawa, Bromo, Lombok, Wakatobi. Itu hanya sedikit tempat di Nusantara yang menjadi mimpi saya. Bahagia bukan, jika bisa menundukkan kepala memuji kehebatan-Nya di seluruh penjuru Nusantara bahkan Dunia? Dan akn lebih bahagia bukan jika dapt mengajak keluarga, Bapak Ibu, semuanya, ah, betapa mimpi itu indah.

Ah, ternyata itu sama muluknya ya? Baiklah, sederhananya, Saya ingin usaha sebagai usaha mewujudkan mimpi.

Semoga Tuhan membaca tulisan ini. Dan tahu kalo saya mau berusaha. Dengan begitu Dia akan membantu saya.

Tapi, bukankan Dia mengetahui segalanya? Itu berarti Dia pasti akan mewujudkan mimpi saya :)

Bahagianya hidup ini :)





No comments :

Post a Comment

leave me some words :)