Sunday, August 18, 2013

Berat

Ada masa ketika kau sudah merencanakan semua
Mempersiapkan bekal seluruhnya
Menentukan kemana arah

Tapi dengan mudahnya kaki kau tak kuasa melangkah
Berat sungguh rasanya

Tak ada juluran tali berbatu yang tersangkut
Tak ada perekat kuat yang menempel

Tak ada apapun
Hanya berat....


Share:

Tuesday, June 18, 2013

Hari Demo BBM


*gambar diambil dari google*

Hari kemarin tidak seperti biasanya..

Gang keluar dari kampus guru macet. Jalan sang pelukis, yang nampaknya orang sulit menyebut namanya, itu macet. Dan yang lebih tidak biasa, jalan tikus alternatif yang biasanya lengang itu pun ikutan macet.
Apakah komo sekarang sudah eksis lagi? Menggantikan Elang dan Rajawali yang beterbangan di layar kaca?

Rupanya tidak..

Setelah menjamah macet lebih dari 2700 detik akhirnya saya temukan biang kerok kemacetan.
Kawan-kawan seprofesi saya. Yang saya pun ragu untuk kepantasan menyebut mereka kawan. Bukan karena saya tak mengenal mereka. Tapi, ah lihatlah kelakuan mereka.

Mereka ini menutup jalan utama di kota nyaman yang mulai ikutan padat ini. Demo bahan bakar yang katanya mau naik. Mau menyuarakan suara rakyat katanya. Tidaklah mereka berpikir berapa ribu rakyat yang mereka sengsarakan karena macet. 

Rakyat yang harus segera pulang kerumah memasak untuk keluarga.
Rakyat yang harus segera mengantar keluarga yang sakit. 
Rakyat yang harus menyampaikan pesanan dari pemesan.
Rakyat yang harus mengejar kereta agar bisa mencari sesuap nasi untuk keluarga
dan rakyat lain yang harus segera pulang menyelesaikan tugas seperti saya...

Dan ah, sebagai kawan seprofesi saya sungguh malu, tadi pagi headline koran memuat mereka. Anarkis katanya. Merusak mobil yang lewat. Di lain daerah malah sampai merusak infrastruktur bangunan.

Saya pikir wajar keinginan demo dan berorasi itu muncul. Wajar ketika mahasiswa mempertanyakan kenaikan BBM sebagai sebuah solusi dari membengkaknya anggaran negara.
Namun menjadi tidak wajar ketika niat mulia itu justru mereka hancurkan sendiri.

Saya memang tidak pernah demo. Buat apa? supaya didengar? Lantas apa yang akan terjadi kalau orasi kita hanya didengar saja? Begitukan biasanya? Masuk kuping kanan keluar kuping kiri.
Tapi saya juga bukannya tidak sepakat dengan demo. Belenggu negara ini terbebas karena demo dari mahasiswa. Ingat kan Mei 1998?

Meski begitu
Saya lebih memilih berdiskusi. Memutar otak menemukan ide bisnis. Merencanakannya. Agar nanti akan ada 3 atau 5 bahkan 10 orang yang nasib makannya tak kan lagi tergantung pada harga BBM. 

Saya memilih berdiskusi dengan teman. Bertukar informasi tentang negeri ini. Terlalu banyak hal yang belum saya pahami. Terlalu sedikit kebaikan yang saya ketahui.

Atau membaca buku. Agar saya bisa menjadi pendidik yang profesional. Yang memiliki pemahaman baik tentang keilmuan dan anak murid saya. Hingga nantinya bisa membantu 10 atau 30 bahkan 100 anak untuk bisa bermimpi, membangun masa depan yang lebih baik untuk mereka.

Tapi saya tetap yakin, setiap orang memiliki cara sendiri untuk mencintai Negeri ini. Dan saya juga yakin, cara apapun itu tentu saja memiliki aturan yang orang pilihan seperti mahasiswa bisa pahami.

Bukankah demikian? Berprofesi sebagai mahasiswa itu sungguh istimewa. Pak Hatta Rajasa bilang hanya 8% rakyat Indonesia usia mahasiswa yang benar-benar menjadi mahasiswa.

Spesial bukan?
Maka saya tidak ingin menodai kespesialan itu.


Hidup mahasiswa Indonesia!!!!


Share:

Friday, May 17, 2013

Cinta bukan tentang usia :)

Si Mbah saya kecelakaan. Tertabrak motor.

Pagi itu masih pukul 05.00. Pagi buta. Si Mbah mau ke pasar belanja buat jualan di warung rumah.
Iya, Si Mbah saya punya warung kecil dirumah. Pedagang. Entrepreneur.

Nah kan! Saya punya darah entrepreneur. Jadi possibly, maybe, saya punya bakat enterepreneur.

Si Mbah saya itu tadi retak dan patah di tiga tempat di tangan kanannya. Dan juga sobek dalam di paha kanan sehingga dijahit. Bukan pakai mesin jahit tentunya. Ini Si Mbah saya, bukan baju.

Ditambah lagi ada retak dan luka besar di jari-jari tangan kanan yang menjadikan kassa yang membalutnya basah. Darah. Merah.

Sementara Si Mbah putri berbaring sambil sesekali mengeluh kesakitan, Si Mbah kakung berada dirumah. Entah melakukan apa, menunggu rumah. Barangkali ada tamu yang datang. Siapa yang tau kan?

Pulangnya, mampir ke Si Mbah kakung. Memastikan makannya terlaksana, menyampaikan kabar.

Tetiba mata ini memerah. Memperhatikan raut wajah Si Mbah ketika mendengarkan cerita tentang kondisi SI Mbah putri.

Raut nya tetap teduh, meski ada kekhawatiran disana.
Senyumnya tetap menyenangkan, meski ada kesedihan disana.
Suaranya tetap tenang, meski ada getaran sendu disana.

Kalimatnya tetap sederhana, meski ada ronta ingin berjumpa sebenarnya.

Begitulah, ketika belahan jiwa kau yang sudah hidup seatap dengan kau tak kurang dari 60 tahun,
sakit dan harus terpisah dari kau.

Mereka bilang tak apa, sudah tua ini. Ah, siapa yang tahu cintanya Si Mbah. Meski sudah bungkuk, sudah keriput, sudah ompong. Cinta tetap cinta.

Cinta bukan masalah usia, ini masalah menjaga. Menjaga cinta.

Saya iri sekali ketika itu. Ingin sekali punya kasih cinta sayang apalah itu, yang tulus. Yang tak mengenal usia.rupa.pesona.

Begitulah, cinta memang bukan tentang usia :)

Share:

Thursday, May 16, 2013

Usaha dengan usaha

Luar biasa sekali seminar kemarin ini..

Sudah gratis, dapat makan minum, sertifikat. Tempatnya pun tak main main.
Grha Sabha apalah itu, milik kampus sebelah. Megah.

Saya datang dengan niat yang tulus. Ingin mendapat pencerahan tentang kewirausahaan.
Dan ini sungguhan. Karena memang begitulah tema seminarnya.

Opening berlangsung wah. Menyanyikan lagu Indonesia Raya yang entah sudah berapa lama tak saya nyanyikan. Merinding hingga ke leher. Menyanyi Satu Nusa Satu Bangsa. Ah, apa pula judul yang benar, liriknya saja sering tertukar. Malu.

Sambutan dari Menteri Koperasi dan UKM pun mewah. Tentu saja bukan Pak Menteri yang datang. Diwakili oleh wakilnya. Siapa entah. Sayang, hanya satu kalimat tanpa makna utuh yang terngiang di kuping saya. Begini >> Kejar dengan gigih, kayak pacar. Apa yang harus dikejar dengan gigih? Apa yang kayak pacar? Pacar siapakah? Entah.

Sayang sekali, sungguh, kewahan itu harus dinodai dengan moderator yang... ah sudahlah. Sungguh moderator yang... ah sudahlah. Ditambah noda dari motivator yang juga... ah sudahlah. Mana ada motivator kok...ah sudahlah. Memang hari itu penuh keanehan yang membuat mulut ini berucap ah sudahlah, gratis ini.

Tapi untungnya ada satu nama yang wah. Profesor Suyanto. Cerdas, sederhana, humoris. Sempurna, dimata saya. Dari Amikom. Akademi Minyak dan Kompor. Begitu beliau memperkenalkannya. Jangan salahkan saya menyebutnya demikian. Punya 10 kampus lebih. Tercatat di Unesco pula. Cerita perjuangan beliau itu, luar biasa. Sayang tak rampung penjelasannya. Dimana saya bisa menemukan beliau lagi. Mari Berburu.

Kami diberikan post test. Pre test juga. Ingat ketika saya hanya menangkap sepenggal kalimat dr sambutan menteri? Ya, karena saya mengisi pre test.

Kenapa ingin menjadi wirausaha? Karena Wirausaha itu hebat. Itu jawaban saya. Benarkan? Wirausaha itu hebat? Tidak hanya mencari uang untuk sendiri, juga membantu yang lain mencari uang. Tidak hanya menggantungkan nasib pada pemerintah, tapi membuat dirinya menjadi gantungan nasib banyak orang.

Tapi tidak, tujuan saya tak semuluk itu. Tujuan saya cuma satu. Saya ingin mengusahakan mimpi saya untuk terwujud. Kalian punya mimpi kan? Saya juga punya. Mimpi itu harus diwujudkan, kan? Dan butuh usaha untuk mewujudkannya, kan? Inilah salah satu usaha saya.

Balekambang, Karimunjawa, Bromo, Lombok, Wakatobi. Itu hanya sedikit tempat di Nusantara yang menjadi mimpi saya. Bahagia bukan, jika bisa menundukkan kepala memuji kehebatan-Nya di seluruh penjuru Nusantara bahkan Dunia? Dan akn lebih bahagia bukan jika dapt mengajak keluarga, Bapak Ibu, semuanya, ah, betapa mimpi itu indah.

Ah, ternyata itu sama muluknya ya? Baiklah, sederhananya, Saya ingin usaha sebagai usaha mewujudkan mimpi.

Semoga Tuhan membaca tulisan ini. Dan tahu kalo saya mau berusaha. Dengan begitu Dia akan membantu saya.

Tapi, bukankan Dia mengetahui segalanya? Itu berarti Dia pasti akan mewujudkan mimpi saya :)

Bahagianya hidup ini :)





Share:

Thursday, April 25, 2013

Kenapa Ujian Nasional


Diskusi kami pagi itu dimulai dengan sebuah pertanyaan. Begini kira kira...

Apakah menurut kalian Ujian Nasional itu perlu?

Seorang teman mengacungkan jari dan dengan mantap mengatakan setuju dengan alasan yang saya lupa persisnya. Karena penting untuk mengukur pencapaian kegiatan pembelajaran, begitu kira-kira.

Keseruan muncul ketika teman yang lain mengangkat tangan dan mulai mengungkapkan pandangannya.
Ujian nasional itu perlu. Namun untuk sepatutnya tidak dijadikan sebagai alasan kelulusan. karena kemampuan anak berbeda. One may be good at music, other may not etc. Dan bahwa yang tau benar proses pembelajaran yang terjadi adalah para guru yang terlibat langsung saat proses pembelajaran terjadi.

Saya sangat setuju tentang poin bahwa setiap anak mempunyai kemampuan berbeda. Dan saya pikir harus ada sebuah cara di dunia pendidikan kita ini yang mampu mengakomodir itu. Sayang sekali saya belum punya solusi untuk itu.

Yang kemudian menjadi pertanyaan adalah. Benarkah guru memahami betul bagaimana perkembangan proses belajar muridnya? Sudahkah guru berperilaku objektif ketika menilai muridnya? Sudahkah guru berperilaku jujur, profesional dengan pekerjaannya?

Saya juga calon guru, dan ini menyadarkan saya akan banyak hal.

Dosen saya bercerita kecil soal ini. Tentang dosen saya yang lain. Ketika di sebuah seminar ada seorang guru di Sumatera berkeluh kesah dan mengatakan bahwa dirinya tak mendukung adanya UN. karena anak muridnya merasa kesulitan. Dosen saya kemudian bertanya, berapa nilai rata-rata UN di sekolah anda? Guru menjawab 7,25. Komentar dosen saya ketika itu,  bukankah itu angka yang bagus untuk ukuran rata-rata? Bagaimana mungkin Anda mengatakan bahwa Anak anda merasa kesulitan sedangkan fakta membuktikan bahwa nilainya bagus.

Saya menarik dua kesimpulan dari pernyataan tersebut. pertama, si guru merendahkan kemampuan anak muridnya. kedua, si guru kerepotan saat harus mendongkrak nilai UN agar anak anak mereka lulus.

Faktanya adalah pemerintah pusat menentukan nilai batas kelulusan berdasarkan hasil UN sebelumya. Maka implikasinya adalah, jika kita menaikkan (tidak jujur) nilai UN krn agar dipandang bagus, akan semakin menyulitkan kita karena itu berarti standar akan terus naik padahal kemampuan anak kita "baik" karena dibaik-baikin.

Banyak yang mengatakan bahwa UN ini membuat anak stres. Anak jadi tertekan. Anak tidak memiliki waktu bermain. UN tidak adil karena standar nilai sekolah di Jawa dan diluar Jawa sama. Padahal infrastuktur nya sangat berbeda.

Ya, saya setuju bahwa infrastruktur adalah bagian penting.

Lagi-lagi saya mempunyai pemikiran baru tentang ini. dan lagi-lagi pesan ini datang dari dosen saya. Disaat seperti ini, posisikan diri kita sebagai orang tua. Orang tua yang baik tentunya. Bukankah kita akan lebih bahagia ketika anak kita disamakan dengan orang yang pintar (dengan kesadaran bahwa kita bisa membantu mereka untuk benar-benar sama dengan anak pintar) ketimbang anak kita dibedakan karena dianggap bodoh?

Jangan jadikan keterbatasan sebagai alasan. Bukankah banyak orang mengatakan demikian? Ini jamannya kerja keras. Jamannya berakit rakit, supaya bisa berenang ketepian. Bukan jamannya lagi memanjakan anak. Khawatir kalau anak berpikir terlalu keras dan sebagainya.

Justru disini point pentingnya. Seharusnya UN bisa menjadikan orang tua dan guru menjadi kompak. Kompak dalam menjadikan atmosfer belajar menjadi menyenangkan. Kompak dalam memberi semangat. Kompak dalam memberi motivasi. Motivasi bahwa ujian adalah hal biasa. Bahwa hidup akan selalu dipenuhi dengan ujian. Dan bahwa nanti, usai masa sekolah, akan ada banyak hal menantang yang membutuhkan kerja keras untuk bisa menyelesaikannya.

Ujian Nasional penting untuk mengetahui bagaimana pencapaian pendidikan kita saat ini. Apakah pembelajarannya berhasil? Apakah ada yang perlu diperbaiki. Dan inilah pertanyaan saya. Lalu apa setelah Ujian Nasional? Evaluasi seperti apa yang dilakukan? Serta perbaikan apa yang diinstruksikan oleh pemerintah. Ini yang tidak saya tahu, dan banyak orang tidak tahu. Dan saya pikir penting bagi pemerintah untuk memberi tahu.

Ketidaksukaan karena ketidaktahuan seringkali membuat banyak orang lupa untuk bisa melihat dari sisi lain. 

Begitulah. Ketimbang kita selalu mencari-cari keburukan yang malah tidak akan menyelesaikan apapun, kenapa kita tidak mencari kebaikan yang bisa kita jadikan motivasi atau alat untuk senantiasa memperpaiki apa-apa yang masih bisa diperbaiki.

Sembari berdoa supaya pendidikan biarlah dibicarakan dalam rangka mendidik. Dibicarakan dengan keadaan sadar, bahwa inilah yang akan menjadi tonggak kebangkitan bangsa kita. Bukan dengan dicampur adukkan dengan kepentingan politis perebutan citra positif.

Share: