Sunday, September 1, 2013

Hari Pertama Penuh Warna. Klise!

Ini adalah sebuah kisah
Kisah mengajar pertama saya

Buruk? Mungkin
dibeberapa bagian

Baik? Tentu saja
dibeberapa bagian

Lesson Plan setebal 4 halaman sudah saya persiapkan
Dengan berbagai macam activity hasil referensi selama saya micro teaching di kampus
Tentu saja dengan banyak improvisasi sambil membayangkan anak murid yang akan saya hadapi

Maklum, sekolah yang saya diami ini memang bukan sekolah sembarangan
Favorit katanya...

Perangkat yang saya butuhkan untuk media pun sudah saya persiapkan dengan baik
Sambil berharap dan membayangkan aktifnya kelas nanti ketika aktifitas itu dilaksanakan

Saat waktu pengeksekusian semakin dekat, saya semakin sulit mengontrol degup jantung
Berbagai kalimat penenang hati saya ucapkan berkali-kali

Perlahan kaki mulai melangkah ke dalam ruangan besar segi empat berisi meja dan kursi
Pandangan mulai saya edarkan keseluruh penjuru kelas

kalimat kalimat perkenalan mulai saya ucapakan
Murid murid berseru riang
Bukan karena kehadiran saya, tapi karena ketidakhadiran guru yang biasa mengajar
Saya tertawa, hambar...

Panjang sebenarnya cerita yang satu ini
Hanya saja jari jari seperti malas tak mau diketuk ketukkan di atas keyboard
Entahlah, mereka mulai sulit diatur

Singkatnya, siang itu banyak sekali pengalaman berharga yang saya dapat
Singkatnya pula, saya lalu menyadari bahwa otak saya harus bekerya lebih keras
Bahwa "Teaching is an art"

Ah, dan lalu saya tiba-tiba ingat
Sebuah kata-kata hebat dari seorang Donny Dhirgantoro
Begini tulisnya di 5cm

"Biarkan keyakinan kamu, 5 centimeter menggantung mengambang di depan kening kamu.
Dan…
sehabis itu yang kamu perlu…
Cuma kaki yang akan berjalan lebih jauh dari biasanya,
tangan yang akan berbuat lebih banyak dari biasanya,
mata yang akan menatap lebih lama dari biasanya,
lapisan tekad yg seribu kali lebih keras dari baja…
Dan hati yang akan bekerja lebih keras dari biasanya…
Serta mulut yang akan selalu berdoa
” 

Kalau sudah begini, saya jadi ingat Semeru. Dan dapat oleh-oleh begini dari teman teman yang mendaki 17 Agustus lalu...



Semoga Tuhan berbaik hati memberi kesempatan meninggalkan jejak sudut di tempat tempat itu
Mari berdoa, untuk mimpi mimpi yang tengah menggantung 5cm di depan dahi kita :)
Share:

Sunday, August 18, 2013

Berat

Ada masa ketika kau sudah merencanakan semua
Mempersiapkan bekal seluruhnya
Menentukan kemana arah

Tapi dengan mudahnya kaki kau tak kuasa melangkah
Berat sungguh rasanya

Tak ada juluran tali berbatu yang tersangkut
Tak ada perekat kuat yang menempel

Tak ada apapun
Hanya berat....


Share:

Tuesday, June 18, 2013

Hari Demo BBM


*gambar diambil dari google*

Hari kemarin tidak seperti biasanya..

Gang keluar dari kampus guru macet. Jalan sang pelukis, yang nampaknya orang sulit menyebut namanya, itu macet. Dan yang lebih tidak biasa, jalan tikus alternatif yang biasanya lengang itu pun ikutan macet.
Apakah komo sekarang sudah eksis lagi? Menggantikan Elang dan Rajawali yang beterbangan di layar kaca?

Rupanya tidak..

Setelah menjamah macet lebih dari 2700 detik akhirnya saya temukan biang kerok kemacetan.
Kawan-kawan seprofesi saya. Yang saya pun ragu untuk kepantasan menyebut mereka kawan. Bukan karena saya tak mengenal mereka. Tapi, ah lihatlah kelakuan mereka.

Mereka ini menutup jalan utama di kota nyaman yang mulai ikutan padat ini. Demo bahan bakar yang katanya mau naik. Mau menyuarakan suara rakyat katanya. Tidaklah mereka berpikir berapa ribu rakyat yang mereka sengsarakan karena macet. 

Rakyat yang harus segera pulang kerumah memasak untuk keluarga.
Rakyat yang harus segera mengantar keluarga yang sakit. 
Rakyat yang harus menyampaikan pesanan dari pemesan.
Rakyat yang harus mengejar kereta agar bisa mencari sesuap nasi untuk keluarga
dan rakyat lain yang harus segera pulang menyelesaikan tugas seperti saya...

Dan ah, sebagai kawan seprofesi saya sungguh malu, tadi pagi headline koran memuat mereka. Anarkis katanya. Merusak mobil yang lewat. Di lain daerah malah sampai merusak infrastruktur bangunan.

Saya pikir wajar keinginan demo dan berorasi itu muncul. Wajar ketika mahasiswa mempertanyakan kenaikan BBM sebagai sebuah solusi dari membengkaknya anggaran negara.
Namun menjadi tidak wajar ketika niat mulia itu justru mereka hancurkan sendiri.

Saya memang tidak pernah demo. Buat apa? supaya didengar? Lantas apa yang akan terjadi kalau orasi kita hanya didengar saja? Begitukan biasanya? Masuk kuping kanan keluar kuping kiri.
Tapi saya juga bukannya tidak sepakat dengan demo. Belenggu negara ini terbebas karena demo dari mahasiswa. Ingat kan Mei 1998?

Meski begitu
Saya lebih memilih berdiskusi. Memutar otak menemukan ide bisnis. Merencanakannya. Agar nanti akan ada 3 atau 5 bahkan 10 orang yang nasib makannya tak kan lagi tergantung pada harga BBM. 

Saya memilih berdiskusi dengan teman. Bertukar informasi tentang negeri ini. Terlalu banyak hal yang belum saya pahami. Terlalu sedikit kebaikan yang saya ketahui.

Atau membaca buku. Agar saya bisa menjadi pendidik yang profesional. Yang memiliki pemahaman baik tentang keilmuan dan anak murid saya. Hingga nantinya bisa membantu 10 atau 30 bahkan 100 anak untuk bisa bermimpi, membangun masa depan yang lebih baik untuk mereka.

Tapi saya tetap yakin, setiap orang memiliki cara sendiri untuk mencintai Negeri ini. Dan saya juga yakin, cara apapun itu tentu saja memiliki aturan yang orang pilihan seperti mahasiswa bisa pahami.

Bukankah demikian? Berprofesi sebagai mahasiswa itu sungguh istimewa. Pak Hatta Rajasa bilang hanya 8% rakyat Indonesia usia mahasiswa yang benar-benar menjadi mahasiswa.

Spesial bukan?
Maka saya tidak ingin menodai kespesialan itu.


Hidup mahasiswa Indonesia!!!!


Share:

Friday, May 17, 2013

Cinta bukan tentang usia :)

Si Mbah saya kecelakaan. Tertabrak motor.

Pagi itu masih pukul 05.00. Pagi buta. Si Mbah mau ke pasar belanja buat jualan di warung rumah.
Iya, Si Mbah saya punya warung kecil dirumah. Pedagang. Entrepreneur.

Nah kan! Saya punya darah entrepreneur. Jadi possibly, maybe, saya punya bakat enterepreneur.

Si Mbah saya itu tadi retak dan patah di tiga tempat di tangan kanannya. Dan juga sobek dalam di paha kanan sehingga dijahit. Bukan pakai mesin jahit tentunya. Ini Si Mbah saya, bukan baju.

Ditambah lagi ada retak dan luka besar di jari-jari tangan kanan yang menjadikan kassa yang membalutnya basah. Darah. Merah.

Sementara Si Mbah putri berbaring sambil sesekali mengeluh kesakitan, Si Mbah kakung berada dirumah. Entah melakukan apa, menunggu rumah. Barangkali ada tamu yang datang. Siapa yang tau kan?

Pulangnya, mampir ke Si Mbah kakung. Memastikan makannya terlaksana, menyampaikan kabar.

Tetiba mata ini memerah. Memperhatikan raut wajah Si Mbah ketika mendengarkan cerita tentang kondisi SI Mbah putri.

Raut nya tetap teduh, meski ada kekhawatiran disana.
Senyumnya tetap menyenangkan, meski ada kesedihan disana.
Suaranya tetap tenang, meski ada getaran sendu disana.

Kalimatnya tetap sederhana, meski ada ronta ingin berjumpa sebenarnya.

Begitulah, ketika belahan jiwa kau yang sudah hidup seatap dengan kau tak kurang dari 60 tahun,
sakit dan harus terpisah dari kau.

Mereka bilang tak apa, sudah tua ini. Ah, siapa yang tahu cintanya Si Mbah. Meski sudah bungkuk, sudah keriput, sudah ompong. Cinta tetap cinta.

Cinta bukan masalah usia, ini masalah menjaga. Menjaga cinta.

Saya iri sekali ketika itu. Ingin sekali punya kasih cinta sayang apalah itu, yang tulus. Yang tak mengenal usia.rupa.pesona.

Begitulah, cinta memang bukan tentang usia :)

Share:

Thursday, May 16, 2013

Usaha dengan usaha

Luar biasa sekali seminar kemarin ini..

Sudah gratis, dapat makan minum, sertifikat. Tempatnya pun tak main main.
Grha Sabha apalah itu, milik kampus sebelah. Megah.

Saya datang dengan niat yang tulus. Ingin mendapat pencerahan tentang kewirausahaan.
Dan ini sungguhan. Karena memang begitulah tema seminarnya.

Opening berlangsung wah. Menyanyikan lagu Indonesia Raya yang entah sudah berapa lama tak saya nyanyikan. Merinding hingga ke leher. Menyanyi Satu Nusa Satu Bangsa. Ah, apa pula judul yang benar, liriknya saja sering tertukar. Malu.

Sambutan dari Menteri Koperasi dan UKM pun mewah. Tentu saja bukan Pak Menteri yang datang. Diwakili oleh wakilnya. Siapa entah. Sayang, hanya satu kalimat tanpa makna utuh yang terngiang di kuping saya. Begini >> Kejar dengan gigih, kayak pacar. Apa yang harus dikejar dengan gigih? Apa yang kayak pacar? Pacar siapakah? Entah.

Sayang sekali, sungguh, kewahan itu harus dinodai dengan moderator yang... ah sudahlah. Sungguh moderator yang... ah sudahlah. Ditambah noda dari motivator yang juga... ah sudahlah. Mana ada motivator kok...ah sudahlah. Memang hari itu penuh keanehan yang membuat mulut ini berucap ah sudahlah, gratis ini.

Tapi untungnya ada satu nama yang wah. Profesor Suyanto. Cerdas, sederhana, humoris. Sempurna, dimata saya. Dari Amikom. Akademi Minyak dan Kompor. Begitu beliau memperkenalkannya. Jangan salahkan saya menyebutnya demikian. Punya 10 kampus lebih. Tercatat di Unesco pula. Cerita perjuangan beliau itu, luar biasa. Sayang tak rampung penjelasannya. Dimana saya bisa menemukan beliau lagi. Mari Berburu.

Kami diberikan post test. Pre test juga. Ingat ketika saya hanya menangkap sepenggal kalimat dr sambutan menteri? Ya, karena saya mengisi pre test.

Kenapa ingin menjadi wirausaha? Karena Wirausaha itu hebat. Itu jawaban saya. Benarkan? Wirausaha itu hebat? Tidak hanya mencari uang untuk sendiri, juga membantu yang lain mencari uang. Tidak hanya menggantungkan nasib pada pemerintah, tapi membuat dirinya menjadi gantungan nasib banyak orang.

Tapi tidak, tujuan saya tak semuluk itu. Tujuan saya cuma satu. Saya ingin mengusahakan mimpi saya untuk terwujud. Kalian punya mimpi kan? Saya juga punya. Mimpi itu harus diwujudkan, kan? Dan butuh usaha untuk mewujudkannya, kan? Inilah salah satu usaha saya.

Balekambang, Karimunjawa, Bromo, Lombok, Wakatobi. Itu hanya sedikit tempat di Nusantara yang menjadi mimpi saya. Bahagia bukan, jika bisa menundukkan kepala memuji kehebatan-Nya di seluruh penjuru Nusantara bahkan Dunia? Dan akn lebih bahagia bukan jika dapt mengajak keluarga, Bapak Ibu, semuanya, ah, betapa mimpi itu indah.

Ah, ternyata itu sama muluknya ya? Baiklah, sederhananya, Saya ingin usaha sebagai usaha mewujudkan mimpi.

Semoga Tuhan membaca tulisan ini. Dan tahu kalo saya mau berusaha. Dengan begitu Dia akan membantu saya.

Tapi, bukankan Dia mengetahui segalanya? Itu berarti Dia pasti akan mewujudkan mimpi saya :)

Bahagianya hidup ini :)





Share: